The Witches , Roald Dahl

Jika aku membuat daftar cerita penyihir yang pernah aku baca, entah sudah berapa. Mulai dari yang tinggal di pulau-pulau kecil, padang pasir, hutan pinus, di rumah dengan kaki pohon yang terus berjalan di dalam hutan, sampai di bulan. Beberapa pernah kudengar dari lirik-lirik lagu, dari nursery rhyme, hingga kisah nini anteh yang tinggal di bulan (dan bulan, selalu identik dengan penyihir (witch) yang memiliki 3 aspek waktu).

Buku The Witches sendiri, adalah salah satu dari sekian banyak ebook yang aku timbun di laptop dan handphone, tanpa sempat dibaca, kemudian menghilang akibat buruknya pengarsipan dan pengaturan file-file. Waktu itu aku mengunduh cukup banyak ebook, dan salah satunya adalah The Witches, yang sayangnya waktu itu aku sendiri sedang tertarik untuk membaca yang lain.

Awalnya aku menganggap The Witches karya Roald Dahl adalah satu dari sekian banyak buku cerita anak-anak lain, dan menganggap bahwa ceritanya tidak akan jauh berbeda dari Hansel & Gretel yang sudah dimodifikasi, Baba Yaga, dan buku anak-anak lain yang tidak akan mengantarkan mereka pada mimpi buruk. Dan aku salah.

Pada The Witches, Roald Dahl berhasil membuat satu mimpi buruk yang dikemas sebagai cerita anak. Penggambaran sosok penyihir sebagai sebuah mahluk yang menyamar menjadi perempuan, dan bahaya yang mereka bawa adalah bentuk horror baru. Jika saja aku adalah seorang anak kecil berumur 7 tahun, membaca buku itu sudah cukup untuk membuatku berhenti keluar rumah, dan mencurigai siapapun yang memakai sarung tangan dan terus menggaruk-garuk kepala.

Karakter yang paling aku sukai dari buku The Witches adalah Nenek. Seorang norwegia tulen (walau sayang sekali tidak ada umpatan seperti ‘Demi mata Odin !’ atau ‘ Dasar bulu Fenrir !’)  yang selalu menghisap cerutu di perapian, dengan masa lalu yang misterius dan melibatkan penyihir. Pada awalnya aku curiga kalau sebenarnya Nenek itu adalah seorang penyihir, sampai ia harus beristirahat karena sakit (penyihir tidak jatuh sakit, penyihir hanya akan melemah ketika ada yang tidak beres pada bulan). Lalu sikapnya yang tenang ketika menghadapi kenyataan bahwa cucunya sendiri telah diubah menjadi seekor tikus, dan ketika didamprat orang tua Bruno yang sama kurang ajarnya dengan anak mereka.

Hal lain yang saya sukai adalah ketika si anak ( oh iya, Roald Dahl tidak memberi anak dan neneknya nama, karena peraturan pertama dalam sihir adalah jangan memberikan namamu pada orang lain ) yang sudah berubah jadi tikus tidak ingin berubah kembali jadi manusia, sehingga ia tidak akan hidup lebih lama dari neneknya. Ini bukan sebuah sad ending  karena dari sudut pandang anak itu, ia akan kesepian jika ia hidup lebih lama dari neneknya, bukan juga sebuah happy ending karena neneknya sendiri tidak akan berumur panjang, dan mereka harus menghadapi banyak penyihir lain dari belahan dunia berbeda, dan Roald Dahl tidak pernah mengatakan bahwa mereka berdua selamat.

Singkatnya, buku ini menceritakan klise penyihir yang membenci anak-anak dan menggunakan permen sebagai bagian dari ramuannya, tapi tanpa klise sama sekali. Sebuah cerita tentang penyihir, yang cukup seram untuk ukuran orang dewasa.

oh iya, untuk tambahan ini lagu tentang Baba Yaga ( Hansel Gretel versi Rusia )
Link

She lives in the woods, in the woods by the tree
Her house runs along on chicken feet
Babies stray from Mommas’ side
Baba Yaga pick ‘em up and say goodbye

Baba Yaga swallowed our bones
Baba Yaga swallowed our souls
Baba Yaga swallowed our bones
Baba Yaga swallowed our souls

Advertisements
The Witches , Roald Dahl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s