AMUK

“Kebakaran! Kebakaran!”

“Air! Air! Mana Air lagi!”

“Kasih jalan buat mobil pemadam!”

Ya, itulah kira-kira gambaran suasana pasar sekarang. Kebakaran besar yang terjadi karena korslet listrik atau entah apa. Penyebabnya bukan urusanku, lagipula di sini aku hanya sebagai penonton. Kebakaran, bagiku seperti opera. Indah, menggambarkan ketakutan mahluk hidup akan api dan kematian. Orang-orang berlari ke sana ke mari, seperti menari. Dan dengarlah, suara itu. Suara kobaran api, sirine mobil, teriakan sumpah serapah dan ratapan putus asa adalah orkes pengiringnya. Kobaran api itu sendiri adalah latar belakang yang mengamuk, dan dahan pohon tempatku bertengger adalah balkon bagi penonton yang diagungkan. Menari, menari dan menari. Api, air dan manusia, semuanya ikut menari, menunggu sang api pergi.

Api berhasil dipadamkan setelah dua jam pergulatan, menyisakan puing-puing kayu dan batu. Mataku dengan awas mengamati dan meneliti reruntuhan bangunan. ”Di lautan batu dan kayu yang hangus ini, pasti ada harta karun tersembunyi” pikirku. Sebuah kilauan cahaya menarik perhatianku, dengan cepat aku mengepakkan sayapku dan terbang menuju sumber cahaya. Aku menyingkirkan sisa-sisa kayu dengan paruhku, bau gosong masih menyelimuti tempat ini. Di bawah tumpukan kayu-kayu yang telah kusingkirkan, aku menemukan harta karun itu. Sebuah cincin emas, dengan mata berlian. Aku menaruhnya di cakarku, berniat pergi tanpa menunjukkan keberadaanku. Tidak jauh dari situ, pemilik toko sedang mengais-ais apa yang tersisa dari hartanya. Ia memandang reruntuhan tokonya. Hanya sebentar saja, aku langsung tertangkap basah olehnya. Matanya berubah menjadi merah dipenuhi amarah.

“Gagak sialan!” teriaknya.

“Bawa sial! Mahluk seperti kamulah yang menyebabkan kebakaran ini!”

Tangannya meraba-raba tanah, mengambil batu terdekat sambil mengumpat. Seketika, ia melempar batu itu, beruntung lemparannya tidak mengenaiku. Dari langit aku masih bisa mendengar sumpah serapahnya, dengan kesal aku membalas,

“Dasar gila!” teriakku. Tentu saja ia tidak bisa mendengar apa-apa selain bunyi ‘kaok’ yang keras.

***

Hujan turun deras di luar, di dalam pos keamanan yang ditutup berkumpul para penghuni pasar.

Wak Atep, sang pemilik toko duduk di atas meja sambil menggenggam sebuah botol yang ditutupi kantong plastik hitam. Raut mukanya menggambarkan keganasan. Matanya merah karena alkohol dan amarah. Ia mengumpat dan menyumpahi sang burung gagak.

“Hewan bawa sial! Kerjanya merusak hidup orang saja!” teriaknya.

“Gagak itu yang bawa sial ke pasar ini, dua hari yang lalu, dia terus-terusan diam di pohon beringin seberang tokoku. Hari ke tiganya, liat apa yang terjadi. KEBAKARAN!”

Hadirin yang lain hanya diam, tidak berani menengahi atau memberi sedikit logika ke otaknya. Begitu Wak Atep mabuk dan marah, yang memisahkan tangan dan tinju hanya waktu, bukan otak. Apalagi ia sempat membuat namanya dikenal karena menghajar habis seorang atlet bela diri yang tidak sengaja menabrak motornya.

“Coba kalian lihat, sudah selesai membakar habis tokoku, masih belum puas juga gagak itu. Bahkan cincin emasku juga diambilnya!” teriaknya.

“Aku bilang gagak itu akan bawa sial lagi di sini. Liat saja, sampai dua hari ke depan. Pasti kalau bukan bencana, ada yang meninggal. Sebelum itu terjadi, kita harus habisi semua gagak dari pasar ini!”

Ruangan itu diselimuti keheningan, beberapa orang mengerutkan dahi, mempertanyakan kewarasan orang ini, sisanya menunjukkan ketakutan akan sosok Wak Atep.

“Sabar Wak” ujar sebuah suara dari kerumunan. Mang Ijan mencuat ke luar, ia berusaha tenang dan mencoba menjabarkan logika kepada Wak Atep.

“Gagak itu bertengger hanya kebetulan saja, lagipula bencana itu kan hanya tuhan yang tahu” ucapnya.

Melihat pembangkangan itu, amuk Wak Atep meluap. Semua amarah yang dipendamnya, ia lampiaskan pada Mang Ijan. Tinjunya membuat Mang Ijan terjembap dan berdarah di lantai.

Belum puas, Wak Atep menendangi Mang Ijan berkali-kali. Orang-orang berkumpul, berusaha menahan Wak Atep, sementara sisanya menggotong Man Ijan. Wak Atep meludahi tempat jatuhnya Mang Ijan dan berteriak, “Siapa lagi yang tidak setuju?”

Hadirin diam, semua kebingungan sudah menjelma menjadi rasa takut. Di kumpulan orang-orang ini, kegilaan sudah menjadi hukum baru.

Kabar perburuan itu tersebar dengan cepat. Saat dini hari, semua kaumku berkumpul. Sebuah ide untuk meninggalkan tempat ini selamanya muncul. Banyak yang tidak setuju, menganggap bahwa rencana perburuan itu hanya omongan orang mabuk biasa yang akan dilupakan esok harinya, dan sisanya ketakutan, sudah memikirkan kabur bahkan sebelum pertemuan ini dimulai.

Aku mengamati dari jauh,  menguping perdebatan yang menentukan keselamatan kami. Namun, pada akhirnya, pergi atau tidak itu menjadi keputusan masing-masing. Aku memutuskan untuk tinggal, namun tetap mengantisipasi perburuan itu. Aku mencari tempat paling aman di pasar ini, tidak banyak dari kami yang tahu tempat ini, karena sedikit sulit dicapai. Tempatnya berada di dahan paling tinggi milik sebuah pohon tua yang dikeramatkan penduduk pasar ini. Karena menjadi keramat, manusia juga takut akan pohon ini. Pohonnya memiliki banyak buah sehingga aku tidak perlu mencari makan di darat. Bagiku, tidak ada alasan untuk meninggalkan pohon ini selama beberapa hari ke depan.

***

Matahari mulai menampakkan wujudnya. Jika benar-benar ada, maka perburuan sudah dimulai. Selama empat hari ke depan aku memakan apa yang ada di pohon ini, melompati satu dahan ke dahan lain. Aku tidak pernah meninggalkan pohon ini, bahkan untuk hinggap ke dahan yang rendahpun aku tidak mai mengambil resiko. Walau bagaimanapun, semua ini tetap opera bagiku, sang penari beralih menjadi kaumku yang berlari-lari di kejar warga yang kebingungan yang dipimpin pemabuk yang marah. Sumpah serapah yang mewarnai perburuan menjadi orkes yang memperindah opera. Dan balkon untuk penonton terhormat beralih menjadi sebuah kursi kecil di pojok ruangan. Tempat penonton yang tidak terlihat duduk, sambil berharap dirinya tidak ditarik untuk mengikuti drama.

Di hari ke lima  aku sudah berani terbang mengelilingi pasar. Tampaknya amarah si pemabuk itu sudah terpuaskan. Langit cerah tanpa awan, hari yang indah untuk terbang dan berkeliling. Aku mulai memberanikan diri untuk terbang rendah. Tapi, ketenanganku terusik begitu aku sampai di lapangan pasar. Pemandangan terburuk yang pernah aku lihat seumur hidupku.

Di sana,  semua mayat-mayat kaumku di gantung di tiang, bulu-bulu mereka dicabuti jantung mereka  lenyap entah ke mana, beberapa mayat bahkan dibakar. Di bawahnya, tanah dipenuhi oleh warna darah kering.

“Bukankah para manusia itu mahluk berakal?”

“Bukankah tuhan sudah mengajarkan mereka untuk mengubur mayat!” amukku.

Amarahku tidak tertahankan, tapi apa yang bisa kulakukan? Aku sendiri, dan tidak bisa menumpahkan balas dendam. Kaumku yang tersisa tidak berdaya menghadapi mereka.

Semua beban atas jantung teman-temanku yang hilang pindah ke pundakku, tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku hanya bisa terbang menjauhi tempat itu, selamanya.

Mang Ijan menatap cermin, mukanya babak belur tidak karuan. Tidak ada yang tahu, bahwa sebenarnya ia memiliki hati yang lemah, batuk darah tak jarang mewarnai harinya. Pukulan dan tendangan yang baru ia terima telah mempercepat kematiannya. Tapi, selain kelemahan, hatinya juga dipenuhi hal yang berbahaya, yaitu dendam dan harga diri yang terinjak. Matanya buas, ia memasukkan pisau dapur ke tasnya, dan berangkat ke tempat Wak Atep.

Advertisements
AMUK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s