Mukjizat

Sudah habis tercoreng muka Laras di mata tetangga-tetangganya. Suaminya baru saja berkata di gang, bahwa, ia ingin mencari mukjizat. Gosip menyebar cepat, apalagi kalau sudah mengakar sejak lama. Kalau bukan karena anak mereka, Laras sudah meninggalkan suaminya dari awal. Tidak ada gunanya menyesal, memang salahnya sendiri baru tahu jika lelaki yang ia cintai sedikit tidak beres otaknya. Dulu memang, Padmo, suaminya, terlihat pintar. Tapi, tampaknya kuping sedang kasmaran sulit membedakan antara sinting dan pintar.

Beruntung Laras mempunyai warung makan sehingga ia bisa menghidupi keluarganya. Anaknya yang masih SD kelas 2 pun turut membantu. Hidup mereka cukup, memang masakan Laras membuat pengunjung ketagihan.

Laras pertama kali bertemu dengan Padmo ketikar umurnya 16, waktu itu Padmo berumur 21 tahun. Bagi Laras, itu adalah cinta pada pandangan pertama. Muka Padmo memang biasa saja, kulitnya sawo matang, rambutnya yang keriting pendek tampak berantakan, seolah tak pernah disisir. Tapi Laras merasakan ada hal menarik dari diri Padmo, yang membuat Laras, saat itu dijuluki wanita besi karena keras kepala, kepincut. Sesuatu itu, terbukti saat Laras mendengar Padmo berbicara, suaranya lembut tapi tegas, seperti angin dingin yang siap membawa badai. Apalagi ketika mereka berdua berjalan-jalan di pinggiran hutan, Padmo berjalan dengan sangat aneh. Kakinya berjingkat-jingkat seolah ia ingin mencuri sesuatu, jalannya pun tidak benar, seperti bayi yang baru belajar. Saat ditanya, Padmo bilang ia tidak ingin menginjak sarang semut di tanah. Semakin jatuh juga hati Laras saat itu.

Diketahuinya bahwa suaminya itu sinting saat mereka baru menikah. Di ranjangnya, Padmo berkata, “Ras, sebenarnya, aku ini Nabi utusan Tuhan.” Dari siratan mata Padmo menunjukkan kalau suaminya itu serius. Laras mengucapkan mohon ampun kepada tuhan berkali-kali, semoga saja cintanya pada orang sinting itu diampuni.

Semenjak gosip itu menyebar, Padmo mencoba-coba segala mukjizat yang dilakukan nabi-nabi pendahulunya, melempar tongkat sambil berharap tongkatnya berubah jadi ular, berbicara dengan binantang, menurunkan makanan dari langit, tapi ia belum cukup tega untuk menyembelih buah hatinya sendiri.

Sebenarnya, sudah tak terhitung jumlah orang yang mendukung Laras untuk meninggalkan suaminya, “Usir saja dari rumah !” ucap seorang tetangga. Tapi Laras tahu betul, ia tidak ingin melakukan hal itu, selain suaminya sayang bukan main kepada Galih, putra mereka satu-satunya, Laras juga tahu bahwa sebenarnya suaminya tidak banyak berubah selain ‘kenabiannya’.

Saat ia melihat Padmo mencoba-coba mukjizat, Laras ragu untuk bertahan, tapi ketika ia lihat suaminya bermain dengan Galih, keragu-raguannya pudar. Setiap hari selalu begitu, keraguan muncul di pagi, hilang di malam, selama lima bulan.

****

Biar tercoreng habis mukanya, masakan Laras masih menyelamatkan sisa-sisa martabat yang ia punya. Sebagian tetangga bilang Laras sama sintingnya karena masih bertahan, sebagian lagi bilang Laras adalah seorang penyabar tiada dua. Laras tidak peduli, selama perut mereka terisi, dicoreng harga dirinya pun tidak apa-apa.

“Tetanggamu itu hanya manusia, kalau binatang-binatang sudah bilang kau sinting, barulah kau itu sinting sebenar-benarnya sinting” ucap Padmo.

Padmo baru saja pulang dari hutan, membawa sayur dan makanan, yang entah bagaimana ia dapatkan. Saat itu, Padmo sedang giat-giatnya mencoba berjalan di atas air. Berkali-kali ia mencoba berjalan di empang dekat sawah, tetap saja di langkah pertama ia selalu tercebur. Ditertawakan anak-anak yang menontonnya, sementara Galih hanya melihat dengan penasaran apa yang dilakukan bapaknya.

Berkali-kali ia coba, hingga anak-anak di sekitarnya mulai pulang satu persatu, menyisakan Galih yang menonton sendirian. Saat sore hampir berakhir, Padmo pulang bersama Galih. Basah kuyup, ia berbisik, “Besok pagi, akan kucoba lagi.”

Namun esok masih berkhianat, anak-anak sekarang tidak hanya menertawakan, tapi juga melempari Padmo dengan lumpur . Terkadang kerikil kecil tercampur di dalamnya, entah sengaja atau tidak. Di rumah, Laras membersihkan luka-luka Padmo. Sakit kepalanya bertambah saat melihat suaminya pulang dengan darah, apalagi melihat Galih berjalan di sampingnya.

“Besok jangan ikut-ikut bapakmu, nanti bisa ikut dihajar kamu !” ucap Laras.

Galih menganggukkan kepala, sementara Padmo tersenyum-senyum. Saat Galih mandi, Padmo berkata, “Tidak apa-apa dilempari lumpur, semua nabi juga pernah di uji seperti itu. “

Laras menjawab, “Dasar sinting !”

Seminggu kemudian, Padmo masih berkutat di mukjizat yang sama. Perbedaannya, malam itu ia bermimpi. Dalam mimpinya ia lihat, ia sedang berjalan di hutan, ketika ular dan serangga menghampirinya, menunjukkan sebuah sungai yang selalu dilewati Padmo saat berjalan menuju empang. Mereka bilang, disitulah mukjizat Padmo akan muncul, penasbihannya sebagai nabi akan terjadi. Padmo bangun dengan keringat dingin, dilihatnya Laras masih terlelap di sebelahnya, cahaya bulan menerobos masuk jendela kamar. Padmo terjaga sampai pagi.

Hari itu, Galih ikut dengan Padmo. Laras tidak mau, walau sudah mendengar mimpi yang Padmo dapatkan. “Buang-buang waktu !” ucap Laras, walaupun Ia sedikit khawatir. Ia tahu sungai yang disebut Padmo memiliki arus yang cukup deras, cukup untuk menyeret seorang anak kecil. Yang Laras tidak tahu, disebabkan hujan dua hari sebelumnya, arus sungai itu semakin berbahaya. Laras bergegas membuka warungnya, “ada ada saja “ pikirnya.

Padmo berjalan pelan menuju sungai bernama Anak Ular yang muncul di mimpinya. Ia menimbang-nimbang, bagaimana ia harus memulainya, pelan-pelankah ? Selangkah-selangkah di atas air, atau berlari saja ? Galih mengikuti bapaknya dengan rasa penasaran yang besar, mengalahkan ejekan-ejekan yang biasa ia terima. Mendekati sungai Anak Ular, mereka berdua mendengar teriakan minta tolong dari arah hulu sungai. Beberapa orang berlari-lari ke arah Padmo, “Ada anak terbawa arus ! “ teriaknya.

Padmo bergegas mengikuti mereka, berlari sehingga sandalnya terlepas, diikuti Galih di belakangnya. Di tepi sungai mereka berhenti, mencari sosok anak kecil yang terbawa arus. Sungai itu sudah meluap sehingga kedalamannya bertambah, mencoba masuk sama saja dengan bunuh diri. Ketegangan sudah memenuhi tepi sungai.

Mereka lihat ada tangan yang menyembul dari dalam sungai, terseret arus ke arah mereka. Tanpa pikir panjang, Padmo langsung berlari ke arah tangan tersebut. Saat kakinya menyentuh air, ia tidak tenggelam, Padmo berjalan. Semua mata tertuju ke arah Padmo, tubuhnya kering, berdiri tegak di atas air, menggendong seorang anak kecil yang kebasahan. Di tepi sungai, semua orang membeku, menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi. Padmo berjalan kembali ke tepian sungai, menaruh tubuh kecil di depan orang-orang yang diam kebingungan. Galih berlari ke warung makan ibunya, sepanjang jalan ia berteriak, “ Maaaak ! Bapak jadi Nabi ! “

Advertisements
Mukjizat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s