Mengkaji Album Samasthamarta dari Zoo : Apakah Zoo pantas disebut sebuah Band ?

yesno081_album_art
cover album

Tampaknya kali ini saya harus mengaku kalah telak pada Rully Shabarra dan kawan kawannya dalam proyek Zoo. Di tahun 2013, tepatnya di IFI Bandung,  saya bertekuk lutut pada Ugoran Prasad dan Melancholic Bitch-nya, setelah mengakui bahwa mereka membuat level baru pada musik pop. Disusul dengan Belkastrelka dan proyek Jalan Emas, dan tentu saja, Punkasila yang totalitas dan ‘barbar’.

Awalnya saya mengira Zoo adalah band yang mencoba menjadi tribal, sampai ketika saya menonton live mereka di Bandung saat launching album Prasasti, saya memasukkan Zoo sebagai band yang harus ditonton jika mereka manggung. Packagingnya yang terbuat dari batu, lalu aksara zugrafi cukup menohok saya, apalagi ketika saya mencoba menerjemahkan lirik-lirik mereka yang ditulis dalam zugrafi menjadi alfabet. Tapi disitu saya juga bertanya, lalu selanjutnya apa ? Saya kira zugrafi akan mati disitu, sebagai aksara yang hanya dipakai sekali dalam satu album.

Ibarat Undertaker dalam menghadapi The Great Khali, Zoo mencengkeram pertanyaan saya dileher, lalu dibanting dengan keras ke lantai ring. Jawabannya saya temukan di album Samasthamarta.

Pada awal saya mengunduh album Samasthamarta dari yesnowave, saya langsung memutar lagunya. Tidak ada kebuasan-kebuasan dari album-album sebelumnya. Sebuah ciri khas Zoo adalah memulai album mereka dengan chanting yang menghipnotis seperti Manekin Bermesin di Trilogi Peradaban dan Kedo-Kedo di Prasasti. Samasthamarta memecahkan ciri khas Zoo. Mungkin memang ada chanting menghipnotis di lagu Giza, tapi kebuasannya tidaklah sebanding dengan Kedo-kedo dan Manekin Bermesin. Buas diganti dengan mistik, seperti matahari yang sedang terbit, lantunan “Iket Khufu” menjelma dari pelan menjadi cepat, lalu pelan lagi. “Ikhet Khufu” (di Wikipedia dituliskan “Akhet Khufu”) merupakan bahasa mesir kuno untuk Piramida Giza (Disebut juga Piramida Khufu). Akhet sendiri memiliki arti tempat matahari terbit dan tenggelam (Horizon) yang juga melambangkan siklus kehidupan (wikipedia).

Lagu-lagu bertemakan arsitektur adalah isi dari Samasthamarta. Pagoda Leifeng di Hang Zhou, Gapura Matahari di Bolivia, Labirin Daedalus di Creta (digunakan untuk mengurung Minotaur), Kota El Dorado (Bukan water park) , Jembatan Rama yang menjadi penghubung India (?) dan Sri Lanka (?), Agora di Athena, Bahtera Nuh, Borobudur dan Kota Hantu Uwentira di Sulawesi. Dari monumen-monumen tua hingga kota-kota misterius, menurut Zoo membantu membentuk pemahaman, nilai, moral, dan pedoman hidup yang kemudian membentuk budaya-budaya di sekitarnya.

Lagu-lagu di Samasthamarta bukanlah lagu untuk menunjukkan kebuasan di arena mosh pit seperti lagu-lagu sebelumnya. Berkurangnya kebuasan Zoo disini adalah jalan awal untuk sebuah konsep yang begitu tertata rapi di Samasthamarta, disini zona tribal dari album Prasasti mulai berubah, menjadi penggambaran perlakuan masyarakat kepada lingkungannya. Karena itu, album Samasthamarta tidak bisa dipandang sekedar buas atau tidak, tidak bisa dinilai hanya musiknya saja.

Ketika saya pertama kali membaca bookletnya, saya mempertanyakan kewarasan Rully Shabara, karena mereka membuat level baru untuk sebuah grup musik, dan batas antara jenius dan kegilaan hanyalah sehelai rambut dibelah tujuh. Pasca Samasthamarta (bahkan sebenarnya, Pasca Prasasti), menyebut Zoo sebagai sebuah grup musik, adalah bentuk dari celaan. Zoo adalah proyek, untuk membuat sebuah kebudayaan dan peradaban baru (dan fiktif) yang mencerminkan pola-pola peradaban yang telah ada. Saya sendiri curiga bahwa niat mereka sudah ada dan tergambarkan di album Trilogi Peradaban (dan saya akan mulai mengkaji kembali album trilogi peradaban).

Di booklet Samasthamarta sendiri dipaparkan tahap-tahap kota fiktif ciptaan Zoo berubah, lengkap dengan sketsanya (Tidak akan saya paparkan, silahkan unduh dan baca sendiri, jangan malas !). Samasthamarta sendiri merupakan Samastha : Sejajar dengan tanah, dan Amarta : Kekal, yang kemudian memiliki arti “Untuk menjadi abadi bukanlah menjadi tinggi, tapi menjadi sejajar dengan tanah.”

Bukan hanya itu, Zugrafi pun dikembangkan dan akan dikembangkan menjadi Zugrafi final, dengan dilengkapi bahasa oral Zufrasi yang akan dikembangkan di album-album selanjutnya. Dan album Samasthamarta ini rencanya akan ditambah lagi dengan instalasi berupa kota fiktif itu sendiri, yang membuat saya kembali mempertanyakan apa yang dimakan oleh para personil Zoo (mungkin beras emas atau semacamnya. Dan kembali lagi, silahkan baca sendiri bookletnya.) Album Trilogi Peradaban, Prasasti, dan Samasthamarta sendiri merupakan rangkaian album yang akan terus berlanjut hingga tahun 2025, dengan iklim sebagai tema terakhir dari Zoo.

Seusai membaca booklet, saya menerka bahwa Zoo, tidak hanya ingin membangun kebudayaan dan peradaban baru dalam musiknya, tapi juga ingin menggambarkan kosmos dan alam semesta (mungkin ? Maaf jika terkaan saya salah.) Tentu ini bukan hal yang baru, sudah ada musisi lain yang menggambarkan alam semesta, salah satunya adalah Nusrat Fateh Ali Khan, yang juga seorang sufi (NAH LOH.)

Maka, sekarang Zoo menambah beban saya dalam berdoa, yaitu mendoakan agar kesehatan personil Zoo dijaga karena saya ingin melihat bagaimana peradaban fiktif ini berakhir.

Sketsa Kota
Sketsa Kota

Untuk mengunduh Samasthamarta bisa klik

Download

(P.S : Terima Kasih sebesar-besarnya pada Yesnowave dan emua personil Zoo karena sudah memulai perjalanan panjang dari rangkaian album ini. You guys rock better than R.H. Oma Irama )

Advertisements
Mengkaji Album Samasthamarta dari Zoo : Apakah Zoo pantas disebut sebuah Band ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s