Dangdut

Barangkali saya harus mengakui, musik dangdut koplo telah menyelamatkan nyawa saya dan kakak saya pada perjalanan Duri-Bukittinggi di tahun 2009. Sekitar delapan jam peralanan melalui tebing-tebing terjal dan jurang yang curam, di malam hari, dengan bijaksananya supir Marjuki Travel (MTv) memutar dangdut koplo delapan jam, full volume. Penumpang lain tertidur nyenyak, sementara saya dengan angkuhnya memutar Pink Floyd agar bisa tertidur menggunakan headset dan mp3.

Tidak nyenyaknya tidur bukanlah hal yang seberapa mengingat saya masih hidup keesokan harinya, semua berkat penyanyi dangdut yang tidak dikenal namanya, dan sistem audio Marjuki Travel yang amat dahsyat. Tanpa mereka, mungkin sekarang saya sudah menjadi mayat didasar jurang, menjadi bangkai yang dimakan binatang dan menyuburkan pepohonan (yang sebenarnya bagus, jika diambil dari sudut pandang alam sekitar), mati tanpa pernah merasakan pacaran.

Dangdut koplo, disko dangdut, atau Dangdut House Music tampaknya menjadi santapan rutin bagi supir-supir bus dan truk lintas propinsi di pulau sumatera dan jawa. Mereka yang mengangkut barang dari pelabuhan lalu mengantarkan ke kota besar untuk didistribusikan, mengandalkan musik dangdut sebagai doping dan penyemangat dalam mengemudi. Bayangkan jika yang mereka dengarkan adalah Efek Rumah Kaca, The Sigit, Sigmun, Payung Teduh, Pink Floyd, Led Zeppelin, atau kemungkinan terburuknya adalah Sigur Ros, angka kecelakaan di sepanjang jalan antar propinsi dan trek Pantura akan meningkat drastis. Belum lagi supir yang malas berangkat karena lagu-lagu yang diputar atau yang disediakan tidak asik. Transportasi barang-barang dan bahan pokok terhenti, perekonomian kita tambah kacau, dengan kata lain, ada baiknya kita memandang dangdut sebagai salah satu aktor penting di dunia perekonomian Indonesia.

Maka jangan heran, di daerah tempat peristirahatan supir antar propinsi, atau di pelosok-pelosok, dangdut adalah pemegang kekuasaan. Kita yang memasuki wilayahnya, atau mengandalkan musik dangdut demi kelancaran sandang dan pangan harus angkat topi, kalau perlu membungkuk memberi penghormatan kepada biduan-biduan yang tidak kita kenal namanya.

Gilanya lagi, dangdut tidak berhenti sampai disitu. Mereka terus mengembangkan sayap-sayap mereka ke arena tujuh belasan, sunatan, kawinan, kampanye bahkan acara-acara musiman di kota hingga desa. Sebuah acara tanpa dangdutan ibarat memakan sayur tanpa sayur, sate tanpa daging, hanya tusuknya saja, hanya asin, hanya tusuk yang digigiti sampai mampus. Mereka mengumpulkan masyarakat dalam satu arena untuk berinteraksi, untuk bersilaturahmi tanpa meminta imbalan berlebih, mungkin sekedar saweran saja, walau yang mereka dapat terkadang berbentuk rabahan-rabahan dari tangan-tangan mesum. Tapi biduan-biduan yang agung tersebut tidak menghentikan jasanya dalam bentuk dendangan asyik di lapangan-lapangan desa maupun kota.

Dangdut adalah sarana meleburkan identitas-identitas musik dan daerah, mengharmonikan apa yang lokal dengan dangdut itu sendiri, sehingga menjadi dangdut baru. Di Minang, kita akan mendengar lagu Ayam den Lapeh di dangdutkan. Di Jawa, ada Lir Ilir diiringi tabuhan-tabuhan kendang dangdut. Bahkan, lagu-lagu populer hingga Salawat Nabi tidak luput mereka rangkul, variatif yang tetap dangdut. Petikan gitar abang RH. Oma Irama yang sangat Progressive Rock pun membuktikan bahwa sejatinya dangdut dapat menerima semuanya, mungkin terkecuali pada Sigur Ros. Dangdut menyerap, menerima, mengharmonikan. Dangdut bergerilya dari desa-desa hingga kota, sehingga musik Dangdut tidak dapat dihilangkan.

Lirik

Saya teringat ketika menonton show efek rumah kaca bertajuk Pasar bisa dikonserkan beberapa waktu lalu, di lagu Mosi tidak percaya, semua orang bernyanyi bersama, seolah – olah melakukan aksi demonstrasi terhadap pemerintah setempat, entah mungkin karena RT di kosan mereka tidak adil dalam pembagian jatah daging kurban. Di sebuah stasiun tv lokal yang membuat daftar lagu protes terbaik, dengan bob dylan dan The Times They are changing dan Killing in the game. (Iya, mereka nulisnya gitu) milik RATM, saya sendiri bertanya-tanya, lagu protes lokal terbaik apa ? Banyak yang akan bilang Iwan Fals, Homicide (walau tidak jelas ngomong apa Morgue Vanguard) , Kantata Takwa, dan Efek Rumah Kaca pastinya akan mendapat sokongan penuh dari dede dede urban nan gemes. Malamnya, saya mendengarkan lagu bete dari Manis Manja, yang menurut saya jauh lebih powerful dibandingkan ERK dan Melbi digabungkan. Lihatlah untaian liriknya :

Aku butuh kasih sayang

Tapi tak kau hiraukan

Aku butuh perhatian

Tapi tak kau berikan

Lalu ada juga :

Aku bete sama kamu

Aku sebel sama kamu

Aku keki sama kamu

Bete bete bete.

Memang, ERK memiliki diksi yang bagus, ah tapi, buruh tani mana mengerti istilah mosi tidak percaya ?

Sedangkan bete, keki, dan sebel adalah santapan mereka sehari-hari. Sebuah irama dari rakyat dan untuk rakyat, yang begitu aplikatif untuk protea kepada siapapun, baik pacar yang tidak perhatian ataupun pemerintah pusat dan daerah yang megabaikan nasib nelayan ban. Dan jika kalian memutar lagu ERK di depan Senayan, yang ada mereka malah menikmati musik-musik ERK. Bayangkan jika sebuah demonstrasi massal, mengundang manis manja, yang dengan kebahenolan mereka mampu menarik massa yang banyak, dan tentu aktivis yang peduli pada isu bukan pada band yang tampil, oh itu akan menjadi demonstrasi terhebat abad ini.

Lantas apa balasan kita terhadap jasa-jasa musik dangdut ? Mungkin kita perlu berpikir sejenak, bahwa tanpa dangdut, bisa jadi kehidupan kota akan mengalami kekurangan bahan makanan, kekurangan bahan-bahan baku untuk diolah. Tanpa lirik lirik banal dangdut, kita tidak bisa melihat isi sesungguhnya dari negara kita tercinta ini. Tanpa dangdut sebagai ajang rekreasi supir dan masyarakat pinggiran (maafkan saya harus menggunakan kata ini), apa yang bisa kita perbuat ? Karena sebenarnya, dangdut adalah cerminan masyarakat akar rumput, mereka yang tumbuh dan muncul tiba-tiba di tengah-tengah kita, terlihat mengganggu walau jasa mereka terlalu besar untuk kita hitung, dan akan hidup jauh lebih lama dari kita sendiri. Nama Trio Macan dan Inul Darastista lebih terkenal dan abadi di seantero negeri dibandingkan dengan Tigapagi (Band mana lagi itu ?) dan Sore. Dangdut adalah kita, Dangdut hidup dekat dengan kita, dan Dangdut tidak meminta kita untuk membeli vinyl mereka. Viva Dangdut ! Viva Trio Macan ! Bersama Kita Digoyang !

Advertisements
Dangdut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s