Norma Keluarga Kecil Yang (Tidak) Bahagia dan Sejahtera

Guru saya pernah mengatakan bahwa pena bisa mengalahkan parang jika pena tersebut cukup tajam, dan pena milik Melancholic Bitch itu sangat tajam. September adalah bulan panas di Indonesia, beberapa hari lalu pihak TNI AD menginginkan kembalinya pemutaran film Pengkhianatan G30SPKI karya Arifin C. Noer untuk ‘mengingat sejarah dan mengetahui fakta.’ Pada Senin dini hari, 18 September 2017 terjadi penyerangan kantor LBH Jakarta di Jalan Diponegoro oleh beberapa ormas untuk membubarkan acara Asik Asik Aksi dengan dugaan menyebarkan komunisme. Hal ini tidak jauh dari apa yang terjadi pada Simposium 65 tahun 2016 lalu. Bulan September adalah bulan pertemuan narasi-narasi yang ada sejak 1965 hingga sekarang. Narasi yang tumbuh di ruangan rapat, studio film, bioskop, kelas-kelas sekolah hingga warung kopi menggeliat dan menjadi bentuk-bentuk yang berbeda dari ormas hingga catatan-catatan kecil di pinggir buku pelajaran sekolah. Album terbaru dari Melancholic Bitch adalah salah satu produk narasi-narasi tersebut, dan seperti pena yang digunakan oleh mereka, album ini sangat tajam.

NKKBS atau Norma Keluarga Kecil yang Bahagia dan Sejahtera, adalah salah satu jargon yang digunakan orde baru untuk mendefinisikan norma keluarga. Jargon ini diambil menjadi judul album ketiga Melancholic Bitch dengan judul NKKBS Bagian Pertama. UU No 10 tahun 1992 mendefinisikan bahwa keluarga yang sah menurut agama dan undang-undang adalah keluarga yang senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kondisi mental, fisik dan sosial keluarga serta mampu menanamkan nilai-nilai luuhur budaya bangsa & agama. Entah berapa banyak keluarga yang tidak memenuhi syarat yang diajukan oleh undang-undang tersebut. Kembali ke NKKBS, album ini mengupas narasi yang terjadi pasca 1965 dalam sebuah cerita tentang keluarga yang terpecah belah dan tidak bahagia. Tema ini senada dengan dua teater dimana Yennu Ariendra dan Ugoran Prasad, dua personil Melancholic Bitch, turut campur tangan, dengan judul Yang Fana Adalah Waktu, Kita Abadi, dan Menara Ingatan. Keduanya menceritakan keluarga yang tidak bahagia serta narasi pasca 1965. Hal ini ditekankan oleh video teaser NKKBS yang dimulai dengan kutipan dari Leo Tolstoy, “Keluarga bahagia serupa, keluarga tidak bahagia berbeda dengan caranya sendiri-sendiri.” Maka tidak heran saat Melancholic Bitch kembali mengangkat tema ini, karena bersifat sangat personal dan permasalahan ini pun tidak kunjung tuntas hingga detik ini.

Album dibuka dengan lagu “Normal,Moral”, yang bercerita tentang kekuatan doktrin yang ditanamkan orde baru yang mampu masuk ke ranjang tempat kau bercumbu, sebuah tempat yang sakral dan intim bagi sebuah keluarga. Dari lagu pertama pun kita bisa mendengar jelas kalau dentingan piano Nadya Hatta telah dan akan menjadi elemen kuat di album ini. Selain itu, Melancholic Bitch juga kali ini dibantu oleh Danish Wisnu Nugraha dari Fstvlst.

Pace album naik di lagu kedua yang berjudul, “Cahaya, Harga.” Lagu ini menghadirkan sense of urgency, seperti sesuatu yang penting dan besar akan terjadi. Sebelum cahaya berubah bencana ia hanya api kecil di sudut ruang keluarga. Kau segera marabahaya. Mesti tiba-tiba marabencana. Apa yang Ugoran Prasad tulis di lagu ini – dan lagu lain di album ini, memiliki diksi yang menarik dan sebenarnya tidak mengejutkan jika kita memperhatikan bait-bait di album Balada Joni dan Susi.

Lagu ketiga bisa dibilang adalah lagu dengan bait yang menjadi favorit saya di album ini. Dengan judul “666,6” lagu ini menyentil, jika bukan memukuli, salah satu fakta penting di negara ini. 6666 ayat, tapi matematika kita cacat; 6666 ayat tapi tata bahasa kita sesat. Bagi kita yang pernah menghadiri Pendidikan Agama Islam di bangku sekolah tentu pernah mendengar angka 6666 sebagai jumlah ayat yang ada dalam kitab suci, walaupun ternyata faktanya tidak. Di lagu ini pun Ugoran Prasad memainkan rima nya, Kumpul kumpul otak dengkul, knalpot polpot otot ngesot dedengkot kolot.  

“Selat,Malaka” bercerita tentang pertemuan dengan sebuah ideologi. Sosok Tan Malaka pun dihadirkan, dinikahi dengan tiket kapal seputar Asia, dan menjadi ayah dari anak-anak revolusi yang empat sehat lima sempurna.

“Dapur,NKK/BKK” adalah salah satu lagu paling kuat di album ini. NKK/BKK adalah kebijakan pada tahun 1977 yang menghapuskan Dewan Mahasiswa dan masuknya militer ke kampus-kampus. Hal ini berbuntut pada pemenjaraan mahasiswa dengan dalih stabilitas. Hal yang sama terjadi di lagu ini, dengan tempat di dapur. Datangnya tetangga sebagai juru jagal yang membantai orang-orang yang diduga terkait dengan PKI menjadi cerita pada lagu “Dapur,NKK/BKK.” Dua hal yang serupa, namun tidak sama persis dirangkum oleh Melancholic Bitch dalam satu lagu.

“Bioskop,Pisau Lipat” adalah lagu yang menjadi single dan video klip dari Melancholic Bitch. Bercerita soal masa-masa ketika seluruh lapisan masyarakat diwajibkan menonton film “Pengkhianatan G30SPKI” yang kemudian menjadi fakta buku sejarah di bangku sekolah. Saya sendiri masih ingat ketika guru SMP saya menceritakan adegan penyiletan dalam film ini sebagai fakta. Tuntutan untuk menayangkan kembali film ini oleh TNI AD membuat lagu ini sangat penting di album NKKBS Bagian Pertama.

“Aspal, Dukun” dibuka oleh synthesizer yang sedikit mengingatkan saya pada Seven Nation Army karya The White Stripes. Lagu ini bercerita soal pembangunan kampung-kampung pada masa orba serta kecemasan dari warga-warga kampung.

Dua lagu berikutnya menceritakan tentang pelarian dan penyintas. Dalam permainan kata “Trauma, Irama” Melancholic Bitch menghadirkan nuansa dangdut yang sangat apik berhubung lagu ini bercerita soal pelarian yang tidak bisa pulang. “Titik Tolak, Pelarian” pun menceritakan hal yang sama seolah menjadi penegasan.

Bagi saya, lagu terakhir di album ini adalah lagu ke sepuluh, berjudul “Peta Langit, Larung”. Nadya Hatta kembali membawa suasana melankolis dengan permainan pianonya. Lagu ini termasuk lagu yang sederhana dan tidak terlalu ramai jika dibandingkan dengan lagu lain di album ini, namun di saat yang sama menjadi lagu yang paling berat untuk saya dengarkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Larung memiliki arti sebagai peti mayat yang tidak berdasar. Mengingat berapa banyak orang yang menjadi korban, entah meninggal ataupun tidak bisa pulang, pasca 1965 dan narasi yang setiap tahun bertubrukan tanpa menghasilkan konklusi yang bermanfaat, menjadi penjalasan dari permasalahan mengapa “Peta Langit, Larung” menjadi lagu paling berat di album ini.

“Lagu untuk resepsi pernikahan” sendiri adalah lagu konklusi dan pemadatan dari semua lagu-lagu di album ini. Dibuka dengan ucapan selamat malam dari Ugoran Prasad terhadap hadirin dari sebuah pesta pernikahan. Lagu ini unik karena menjadi satu-satunya lagu yang judulnya tidak pisahkan oleh koma. Mungkin hal ini yang menyebabkan saya tidak menganggap lagu ini sebagai akhir dari album NKKBS bagian pertama namun sebagai rangkuman.

Melancholic Bitch , seperti biasa , membawa kita pada sebuah cerita dalam bentuk album musik. Album ini cukup dalam arti eksekusi , jumlah lagu, suasana dan cerita yang dibawakan tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Menceritakan dua kejadian yang paralel satu sama lain, beserta sebuah narasi yang tampaknya tidak akan kunjung mencapai konklusi dari tahun ke tahun. Dalam sebelas lagu, Melancholic Bitch berhasil menceritakan soal keluarga yang tidak bahagia, dan menurut saya, jika negara ini adalah keluarga, kita tidak memenuhi persyaratan Undang-Undang. 



Advertisements
Norma Keluarga Kecil Yang (Tidak) Bahagia dan Sejahtera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s